Hadits Tentang Larangan Berlebih-lebihan

  1. Dari Ibnu Mas’ud ra, bahwa Nabi saw bersabda: “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan”, tiga kali Rasulullah menyebutkan hadits ini, baik sebagai berita tentang kehancuran mereka ataupun sebagai do’a untuk kehancuran mereka. (Diriwayatkan oleh Muslim (2670)).
  2. Orang-orang yang berlebih-lebihan ini, seperti dikatakan oleh Imam Nawawi, ialah orang-orang yang ucapan dan perbuatan mereka terlalu dalam dan melampaui batas. (Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, 5/525, terbitan Asy Sa’b, Kairo).
  3. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud: “Jauhkanlah dirimu dari berlebih-lebihan (tanaththu’) dan perpecahan”. Yakni berlebih-lebihan dalam membaca berbagai macam qira’at. (An Nihayah, Ibnul Atsir, 5/74, terbitan Isa Al Halabi, Tahqiq Ath Thanahi).
  4. Sabda Nabi saw dari Ibnu Abbas:“Jauhkanlah diri kamu dari berlebih-lebihan dalam agama karena orang-orang sebelum kamu hancur hanya sebab berlebih-lebihan dalam agama”. (Diriwayatkan oleh Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majjah, Al-Hakim, Ibnu Huzaimah dan Ibnu Hibban dari Ibnu Abbas sebagaimana di dalam shahih Jami’ (2680)).
  5. “Orang Muslim yang paling besar kesalahannya ialah seseorang yang menanyakan sesuatu yang tidak diharamkan kemudian karena pertanyaannya sesuatu itu menjadi diharamkan”. (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Al I’tisahm dan Muslim dalam Al Fadho’il dari Sa’d bin Abi Waqash, lihat Al Lu’lu’u wal Marjan (1521)).
  6. “Janganlah engkau tanyakan kepadaku sesuatu yang aku biarkan untuk kamu, karena orang-orang sebelum kamu hancur hanya karena banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka dengan para Nabi mereka. Apabila aku melarang kamu dari sesuatu maka jauhilah dia dan apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kamu maka lakukanlah semaksimal mungkin; dan jika aku mencegah kamu dari sesuatu maka tinggalkanlah dia”. (Diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, Muslim, Nasa’I dan Ibnu Majjah dari Abu Hurairah. Lihat: Al Lu’lu’u wal Marjan (846) dan Shahihul Jami’ (3430)).’
  7.  Anas ra meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah ditanya oleh para sahabat dengan pertanyaan yang bertubi-tubi sampai membuat Rasulullah marah. Kemudian beliau naik mimbar seraya bersabda: “Janganlah kalian bertanya tentang sesuatu kepadaku pada hari ini kecuali apa yang telah aku jelaskan kepada kalian”. Anas ra berkata: Kemudian aku layangkan pandangan ke kanan dan ke kiri tiba-tiba setiap orang mengusap mukanya dengan pakaiannya karena menangis… Kemudian Umar ra bangkit seraya berkata: “Kami telah ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai Din, dan Muhammad sebagai Rasul. Kami berlindung kepada Allah dari fitnah”. (Muttafaq ‘alaih, Al Lu’lu’u wal Marjan (1523)).
  8. Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Yusuf bin Mahik, ia berkata: “Pada waktu aku berada di sisi Aisyah Ummul Mu’minin ra datanglah seorang Irak kepadanya kemudian bertanya: “Kain kafan apakah yang paling baik?”. Aisyah ra menjawab: “Apa salahmu sampai bertanya begitu?”. Orang itu berkata: “Wahai Ummul Mu’minin, perlihatkanlah mushafmu kepadaku”. Aisyah ra berkata: “Kenapa?”. Orang itu berkata: “Agar aku membaca al-Qur’an sesuai dengannya karena ia dibaca tidak tertib”. Aisyah berkata: “Apa salahnya dengan bacaanmu terdahulu?”. (Diriwayatkan oleh Bukhari (4993).

Masih banyak lagi hadits yang menjelaskan tentang larangan berlebih-lebihan. Semoga hadits di atas menjadikan kita tidak lagi berlebih-lebihan di segala bidang. Amin.  

This entry was posted in coretan, hadits, islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s