Mbok Jamu Pegosip

Di minggu pagi, orang-orang mungkin sedang jogging ke alun-alun kota. Sebenarnya bukannya aku tak ingin seperti orang-orang itu, tapi karena panggilan tugas yang harus dikerjakan, aku tetap di rumah. Itu adalah komitmen yang telah dibuat bersama ibu dan ayah.

Sekitar pukul 6 pagi, kuambil alat pel dan pergi ke ruang tamu untuk mengepel lantai. Di hari-hari selain minggu, aku hanya mengepel teras depan saja, tapi karena hari libur, aku harus mengepel lantai ruang tamu dan teras depan.

Teras depan sudah aku pel. Tinggal bagian teras depan yang belum. Kuambil alat pelku dan memindahkannya ke teras depan. Ketika hendak mengepel, suara mbak jamu terdengar. Aku memanggil ibu yang sudah menjadi langganan si mbok.

   “Bu, si mbok jamu nih. Mau beli jamu gak?
   “Iya, tunggu sebentar.” Suara ibu lantang dari kamar, membawa uang.
   “Saya mau ya bu?”
   “Iya iya. Kamu dulu minumnya, lalu lanjutin ngepelnya.”
   “Iya bu.”

Kuteguk jamu bikinan si mbok sedikit demi sedikit. Enak, hangat seperti biasanya. Kulanjutkan mengepel. Terdengar suara si mbok dan ibu sedang bergosip.

   “Eh non, tau gak si mbak Asti dan suaminya sudah cerai!” sahut si mbok
   “Beneran mbok?”
   “Iya bener! Katanya karena suaminya selingkuh sama istri orang lain”
   “Wah wah. Keterlaluan banget tuh! Terus gimana lagi?”
   “Si mbak Asti itu ……” suaranya mengecil.

Aku yang mendengar gosipan mereka gemas sekali. Sudah jelas, bergosip itu dilarang oleh agama, masih saja bergosip. Ingin aku memberitahu mereka, tapi aku tak berani mengatakannya. Aku lebih berani mengatakannya pada ibu. Pikirku lebih baik memberitahukannya pada ibu saja nanti.

Aku telah selesai mengepel. Si mbok juga sudah pergi berjualan lagi. Saat itu ibu sedang duduk di ruangan tamu dengan santai. Sepertinya pekerjaannya sudah selesai. Kuhampiri ibu dan ngobrol-ngobrol santai dengannya.

   “Ibu, Adi boleh tanya?”
   “Tentu. Mau nanya apa Di?”
   “Kalo ngegosip itu gak boleh kan?”
   “Iya. terus kamu mau nanya apa?”
   “Tapi kenapa ibu selalu negosip sama si mbok?”
Ibu termenung. Sepertinya ia sadar yang dilakukannya itu salah.
   “Iya Di, ibu salah. Maafin ibu ya Di. Ibu udah kasih contoh yang nggak bener sama kamu.”
   “Iya bu nggak apa-apa. Saya mau nonton TV dulu ya bu.”
   “Ya.”

Keesokan paginya, si mbok jamu datang lagi. Ia mengajak ibu untuk bergosip lagi, tapi ibu menolaknya. Ia memberitahukan bahwa bergosip itu dilarang oleh agama. Akhirnya si mbok sadar. Selesai

This entry was posted in cerpen, si adi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s