Secangkir Kasih Dari Ibu

Sepulang dari sekolah, aku bergegas ke rumah. Memasuki kamar dan membanting tas karena kesal. Semua orang yang ada di rumah termasuk Ibu terheran-heran dengan sikapku. Ibu lalu mengetuk pintu kamarku dengan membawa rasa penasarannya.


   “Li, kenapa kau nak?”
   “Ngga apa-apa bu, biarin Eli sendiri!”
   “Tak apa-apa bagaimana? Pasti ada apa-apa! Ayo nak, buka pintunya!”
   “Nggak mau bu!”

Setelah itu, tdak terdengar lagi suara ketukan pintu kamarku, dan juga suara ibu. Aku tak begitu peduli, aku lompat ke tempat tidur dan merebahkan tubuhku disana. Itulah kebiasaanku ketika sedang sedih. Membenamkan kepalaku ke bantal dan lekas tidur.

Sekarang sudah pukul 4 sore. Sepertinya aku tidur selama 2 jam. Aku bangkit dari tempat tidurku, mengganti baju dan berdiri di hadapan cermin. Apa yang telah kulakukan? Membentak wanita yang telah mengurusku dari bayi yang tidak memiliki salah padaku.

Aku menyesal telah membentak ibu. Aku berniat untuk meminta maaf pada ibu. Niat itu segera aku lakukan tanpa pikir panjang lagi. Aku pergi mencari ibu. Pikirku ibu saat ini pasti sedang menanak nasi untuk makan malam nanti. Dan benarlah dugaanku itu. Kudekati ibu dan duduk di sebelahnya.

   “Bu, maafin Eli soal yang tadi siang ya bu. Eli menyesal telah membentak ibu. Eli tau itu salah, makanya Eli minta maaf bu.”
   “Sudahlah nak, jangan terlalu dipikirkan. Ibu sudah memaafkanmu kok nak. Ibu tau saat itu kau tak ingin diganggu siapapun, termasuk ibu.
   “Makasih bu, tapi ibu nggak marah kan sama Eli?
   “Nggak nak, buat apa marah? Marah itu tidak akan meyelesaikan masalah, malah akan menambah masalah itu menjadi besar.”
   “Makasih ibu, ibu baik banget deh. Eli bangga punya ibu seperti ibu.”
   “Iya nak sama-sama. Sudah, sekarang bantu ibu memasak. Hari ini kita akan masak daging ayam dan membuat sambal. Kau dan ayahmu pasti suka.”

Aku tersenyum. Kuambil daging ayam dari kulkas dan bergegas ke dapur untuk memasak. Aku membuat sambalnya sedangkan ibu memasak daging ayam. Selesai

This entry was posted in cerpen, si adi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s